Saat pria itu menggeleng pelan, Kalila mencondongkan tubuhnya untuk menyatukan bibir mereka, niatnya sebentar saja, namun saat ingin memundurkan kepala, tangan Erik justru menahan tengkuknya. Erik tersenyum saat Kalila menjauhkan wajahnya. "Manis," komentar pria itu yang kembali mendapat toyoran di pipinya. "Jangan pergi." Kalila terdiam. "Kamu yang jangan pergi," balasnya. Erik tersenyum, tidak menanggapi gadis itu dan memilih memejamkan mata saat pusing di kepala memintanya untuk diam saja, karena efek obat yang disuntikan ke tubuhnya, pria itupun tertidur setelahnya. ***Beberapa hari telah berlalu, luka pada lengan Erik sudah mengering, semua perban di tubuhnya pun sudah dibuka, namun pria itu masih tampak lemah untuk melakukan apa-apa. "Mau kubantu?" tanya Rania saat mendapati Erik di dapur tengah menuang air ke dalam gelas. Sekilas Erik menoleh. "Tidak, terima kasih," balasnya. Rania pun tidak memaksa, namun saat melihat bungkusan obat yang terletak pada meja dapur di had
Baca selengkapnya