共有

Lagi

作者: Azzurra
last update 公開日: 2026-03-09 19:02:39
Dalton berdiri mematung di tengah padang rumput, handuk yang melilit pinggangnya kontras dengan senapan laras panjang yang ia genggam dengan jemari kokoh. Matanya yang sedetik lalu penuh gairah untuk Ana, kini berubah menjadi sepasang mata elang yang dingin dan mematikan.

Joy berhenti menyalak, tapi bulu kuduk anjing itu masih berdiri. Dari balik rimbun pepohonan di perbatasan lahan, muncul sesosok pria dengan setelan jas rapi yang tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan peternakan yang
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kecurigaan.

    Julian mengenakan rompi antipeluru tipis di balik mantelnya, sementara jemarinya dengan cekatan merakit perangkat komunikasi mikro. Sebagai ahli strategi keamanan, ia tahu bahwa informasi adalah senjata utama, namun peluru adalah titik terakhir jika negosiasi gagal. "Aku sudah menandai area dermaga," ucap Julian sambil menunjukkan tabletnya pada Mikail. "Ada tiga titik buta di sana. Jika Sam datang membawa pasukan, mereka akan terjebak di area terbuka sebelum bisa mendekati dermaga pribadi itu." Mikail hanya mengangguk kecil. Ia duduk di depan laptopnya, jemarinya menari di atas tuts keyboard. "Aku sudah memasang firewall berlapis pada semua server firma hukumku. Begitu ada upaya peretasan atau akses ilegal menggunakan namaku atau namamu, sistem akan langsung melacak lokasi GPS pengirimnya secara real-time." Mikail berhenti sejenak, menatap layar yang menampilkan foto buram Sam yang dikirim oleh Daniel. "Aku masih bertanya-tanya apa maksud Daniel dengan 'kewajiban darah'. Di dun

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Strategi.

    Daniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-basi. "Bagus. Julian?" tanya Dalton di seberang sana, suaranya terdengar berat dan letih. "Aku akan mengirimkan data pertemuan ku dengan Mikail ke Julian melalui jalur anonim perusahaan keamanannya malam ini. Dia pasti akan datang ke Jenewa begitu menyadari adiknya dalam bahaya. Sam tidak boleh mendapatkan akses ke satu pun dari mereka." Daniel masuk ke dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di sudut jalan gelap. Di dalam, ia sudah menyiapkan peralatan pemantauan tingkat tinggi—warisan dari teknologi Obsidian yang masih berfungsi sempurna. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta digital dermaga pribadi di Danau Jenewa. "Kamu harus berhati-hati, Daniel," suara Dalton terden

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   The Ghost

    Di tengah ruangan galeri yang sepi, Mikail berdiri tegak menatap sebuah lukisan abstrak bertajuk 'The Silent Debt'. Tangannya bersedekap, auranya begitu dominan hingga pengunjung lain seolah segan mendekat. Daniel melangkah perlahan, berdiri di sampingnya seolah ikut menikmati lukisan itu. "Lukisan yang bagus. Tapi sayangnya, sejarah di baliknya tidak seindah warnanya," ucap Daniel tanpa menoleh. Mikail tidak bergeming. "Kebanyakan orang di sini hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, Tuan ...?" "Daniel. Hanya seorang kurir yang membawa kabar tentang sebuah aset yang mulai bocor ke permukaan," jawab Daniel tenang. Ia menyodorkan sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan logo Obsidian yang sangat samar, nyaris tak terlihat jika tidak terkena cahaya dengan sudut tertentu. Mikail melirik kartu itu. Untuk pertama kalinya, otot rahangnya mengeras. Sebagai 'The Ghost', dia tahu persis logo itu—sebuah organisasi y

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kemana Dia

    Angel melangkah tergesa keluar dari lift, napasnya memburu. Tas kerjanya terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah sif panjang yang melelahkan di rumah sakit. Sambil merogoh kunci akses di dalam tas, ia berkali-kali merutuki Gunawan di dalam hati—pria itu yang dulu memaksanya menjaga Daniel, tapi sekarang malah Angel sendiri yang kelabakan karena takut pasien keras kepalanya itu kenapa-kenapa."Daniel, aku datang! Maaf ya terlambat, tadi ada pasien darurat—"Suara Angel menggantung di udara. Ia mematung di ambang pintu. Sunyi. "Daniel?" Angel melangkah masuk lebih dalam, meletakkan belanjaan berisi bahan sup segar di atas meja dapur.Ia memeriksa kamar tidur. Kosong. Tempat tidur sudah rapi, bahkan kaos oblong yang tadi pagi dia pakai sudah tergantung bersih di ruang laundry. Angel segera berlari ke sofa, merogoh kolong bantal tempat biasanya Daniel menyembunyikan tabletnya. Kosong."Bayi tua nekat!" umpat Angel, tangannya mulai geme

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Benteng Pertahanan.

    Di beranda belakang yang sunyi, Maria berdiri menatap taman dengan pandangan kosong. Di tangannya, sebuah foto usang teremas pelan. Langkah kaki lembut mendekat, Ana datang membawa secangkir teh Rosella hangat, mencoba mencairkan suasana yang membeku sejak keributan di ruang kerja tadi. "Ibu belum istirahat?" tanya Ana lembut sembari meletakkan cangkir itu di meja kecil. Maria menoleh, matanya sembab. "Bagaimana Ibu bisa tenang, Ana?"Maria memandang hamparan gelapnya malam dengan tatapan gundah. "Jangan di pikirkan, Bu." Ana berdiri di sebelah Maria menyentuh lengan wanita tua ini, lalu mengajak Maria duduk. "Aku buat teh Rosela, silahkan di minum, Bu." Ana menyodorkan cangkir berisi rosela. Maria mengambil cangkir dan menyesap teh itu perlahan. Setelah itu kembali berbicara, "Ini soal janji, Ana. Ibu tak mau hingga mati ibu belum mengenalkan mereka pada ayahnya. Bukan masalah janji pada Sam, tapi pada wanita itu, sekarang mereka sudah dewasa dan ibu semakin tua. Ini waktu yang t

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Permintaan Sulit.

    Malam di teras rumah Hermawan terasa begitu berbeda. Tidak ada suara sirene polisi di kejauhan, tidak ada deru mesin mobil pengawal yang berjaga di depan gerbang. Hanya ada suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyang dahan pohon mangga di halaman. Dalton dan Ana duduk di kursi rot

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kehancuran Jiwa.

    Malam semakin larut saat Ana memutuskan untuk tidak pulang ke penthouse. Dia merasa sesak di tengah kemewahan yang dibangun di atas darah dan pengkhianatan, lututnya tak bisa menopang tubuhnya saat seorang pengawal tadi menyampaikan jika orang-orang Dalton sudah membereskan keluarga Sam. Ana meng

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Penghianat dari Dalam.

    Pagi terasa dingin, suasana di markas bawah tanah Obsidian terasa sangat mencekam. Dalton duduk dengan satu kaki menopang kaki yang lain. Tatapannya tajam menyayat setiap tarikan nafas Elena. "Kamu punya informasi apa?" Suara Dalton bagai petir di telinga Elena. Dengan tangan bergetar wanita berhi

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Jebakan 1

    Ana menatap mata kelam milik lelaki yang berdiri di dekat kakinya, matanya yang lelah menatap Dalton dengan tajam. "Aku seorang dokter, aku tidak memilih siapa yang berhak hidup. Tugasku adalah melawan kematian, apa pun warnanya." Ana bangun dengan kaki gemetar, dia meraih lengan Dalton, menarikny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status