Plak!Menampar pipi sendiri pakai sisa telapak tangan kanan yang berlumuran darah kental tidak bikin pening di kepalaku berkurang. Malah rasa anyir darah campur daki semen merembes masuk ke sela bibirku yang pecah. Kebas. Pandangan mata asliku makin buram, cuma bisa menangkap siluet gaun hitam Haneul yang mendadak kaku berdiri di atas ubin tegel. Pendar ungu di matanya sudah hilang total, berganti warna hitam pekat yang menyumbat seluruh lingkaran kornea matanya sampai kelihatan bolong mirip lubang sumur tua mati.Tangan kabut Malakai masih menempel di dahi anak itu, menguapkan asap kelabu tipis yang baunya busuk seperti daki lapis baja yang terbakar."Haneul! Anjrit, denger kamuku, Haneul!"Suara lengkingan Vane kedengaran menjauh di sebelah kiri. Berisik. Samar-samar aku melihat dia memungut potongan pipa besi penyok dari lantai, lalu mengayunkannya sekuat tenaga ke arah lengan kabut yang keluar dari dinding uap.Wusss... klang!Gagal total. Pipa besi itu cuma memotong udara kosong,
더 보기