Mereka tiba di sebuah restoran Italia mewah di pusat kota. Aslan sudah memesan tempat privat di balkon dengan pemandangan lampu kota yang gemerlap. Laura duduk di hadapannya, masih canggung tapi mulai tersenyum kecil.Makanan datang. Mereka mulai berbincang, tentang kampus, tentang makanan, tentang hal-hal ringan lainnya. Aslan berusaha keras mencairkan suasana, dan Laura mulai menikmati momen itu. Untuk pertama kalinya hari ini, ia merasa bahagia.Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.Tengah asyik menyantap pasta, ponsel Aslan bergetar. Ia melirik layar, dan ekspresinya langsung berubah. Wajahnya tegang. Ia menolak panggilan itu. Tapi tak lama, ponselnya bergetar lagi dan lagi."Apa Paman tidak mau angkat?" tanya Laura hati-hati.Aslan terdiam, lalu menghela napas. "Maaf, aku harus angkat. Sebentar."Ia berjalan agak menjauh, menempelkan ponsel ke telinga. Laura tidak bisa mendengar percakapannya, tapi ia bisa melihat raut wajah Aslan yang semakin gelap. Ada kecemasan, kemar
Last Updated : 2026-02-19 Read more