Pria itu. Aslan. Berdiri di depan pintu UGD dengan wajah penuh amarah, mengguncang-guncang kerah baju seorang perawat jaga yang malang. Di belakangnya, dua pria bersetelan hitam menggotong tubuh tak sadarkan diri, Rick, tangan kanan Aslan yang sejak lama sudah Laura kenali. Wajah Rick pucat pasi, bajunya basah oleh darah.Laura merasa seluruh udara di ruangan itu lenyap. "Kenapa dia ada di sini?"Jantungnya berhenti berdetak untuk satu detik yang terasa abadi, lalu berdegup kencang seperti genderang perang. Refleks tercepat dalam hidupnya, tangannya meraih masker bedah di saku seragam, menutup setengah wajahnya dalam hitungan detik. Ia membalikkan badan, hampir menjatuhkan nampan berisi alat suntik di belakangnya, dan melesat masuk ke lorong belakang yang menuju ruang sterilisasi.Langkahnya terburu-buru, hampir berlari, tapi ia paksakan berjalan cepat agar tak mencurigakan. Ia tak bisa percaya. Setelah tujuh tahun, setelah ia bersusah payah menghilang, membesarkan Jayden sendirian, m
Read more