Laura mencengkeram seprai dengan gemetar, punggungnya masih terasa perih karena benturan berulang dengan kasur. Aslan telah selesai dengan "hukumannya" dan kini duduk di tepi ranjang, merokok dengan santai seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan rutin."Kau boleh pergi setelah fajar," kata Aslan tanpa menoleh. "Tapi kalau kau coba kabur lagi, aku akan pastikan kau tidak bisa kemana-mana selamanya."Laura tidak menjawab. Ia hanya memeluk lututnya, berusaha menutupi tubuhnya yang penuh bekas merah. Air matanya telah kering, menyisakan rasa hampa yang menganga di dada.Di dalam kepalanya, hanya satu nama yang terucap berulang, Jayden.Anaknya itu pasti ketakutan setengah mati. Laura membayangkan Jayden bersembunyi sendirian di suatu tempat gelap, menunggu ibunya yang tak kunjung datang. Atau lebih buruk, mungkin anak itu sudah ditemukan orang-orang Aslan."Bisa kutebak kau sedang memikirkan anak itu," suara Aslan memecah keheningan. "Jangan khawatir. Selama kau kooperatif, tidak akan ad
Read more