"Aku tidak akan masuk. Aku cuma... aku cuma ingin mengembalikan ini." Aslan meletakkan bola itu di atas pagar, lalu mundur selangkah, lalu selangkah lagi. "Ambil kalau kau mau."Jayden menatap bola itu, lalu menatap Aslan. Beberapa detik berlalu, terasa seperti selamanya. Lalu bocah itu bergerak maju, meraih bolanya, dan langsung berlari masuk rumah tanpa menoleh.Namun, Aslan melihatnya. Di sela-sela langkah kecil itu, ada senyum tipis yang muncul sekilas. Mungkin hanya imajinasinya. Mungkin hanya harapan kosong. Tapi cukup untuk membuatnya kembali esok hari."Anak itu sama sepertiku. Aku yakin nanti dia akan menjadi mafia yang hebat. Nenek pasti akan menyukainya juga," kata Aslan pelan.Rick yang dibelakangnya pun mendekat. "Tuan, anda pasti bisa. Tapi tolong lihatlah tuan muda sebagai darah daging yang anda sayangi, bukan sebagai pewaris, jika Anda melihatnya seperti itu dan Nona Laura mengetahuinya. Dia akan semakin menjauh dari anda," nasihatnya."Tapi dia memang pewarisku, kelak
Read more