Hanya saja, begitu membuka pintu, Rachel malah disambut oleh ruangan yang sunyi dan gelap. Dia mau tak mau merasa terkejut.Dinding kaca di ruang tamu menangkap cahaya lampu kota dan memantulkannya dengan lembut ke karpet di samping sofa. Sepertinya, tidak ada orang di rumah."Sean?" Entah kenapa, Rachel merasakan sedikit gelisah. Suaranya tanpa sadar melembut, seolah-olah takut mengganggu sesuatu. Namun, tepat saat sampai di sisi sofa, dia melihat pria itu meringkuk di sudut sofa. Tubuhnya tertutup selimut tipis, sedangkan matanya terpejam. Sean begitu tenang hingga membuat orang merasakan sedikit sakit hati yang aneh."Sean ...." Rachel menghela napas lega, lalu segera meletakkan tasnya dan berjongkok di samping sofa. Dia dengan lembut memanggil nama Sean dua kali, lalu menyentuh dahi dan tangannya karena takut ada yang tidak beres."Kamu sudah pulang." Suara Sean terdengar berat dan rendah, seolah-olah dia baru bangun. Dia membuka matanya dan berkedip sebentar. Kemudian, dia menat
Read more