"Aku? Aku baik-baik saja." Rachel tertegun sejenak, lalu menyadari maksud Sean. "Oh, maaf. Tadi, aku menerima telepon dari Paman Taufan." Pria itu masih memegang ponselnya, sedangkan layarnya masih berada di halaman panggilan. Panggilan mereka berakhir begitu tiba-tiba. Berhubung sudah sampai di rumah, Rachel memutuskan untuk berbicara dengan Taufan terlebih dahulu. Tak disangka, hanya dalam waktu beberapa menit saja, Sean mengkhawatirkannya sampai seperti ini.Mendengar penjelasan Rachel, kepalan tangan Sean baru mengendur. Sedikit rasa malu terlintas di wajahnya, lalu dia dengan lembut memeluk Rachel. "Lain kali, suruh Xander saja yang jemput kamu.""Aku sudah dewasa .... Lagian, memangnya kamu mau buat Xander mati kecapekan?" Rachel merasa hatinya terasa hangat, tetapi suaranya terdengar geli sekaligus pasrah. Terutama pada saat-saat seperti ini, Sean bisa membutuhkan orang untuk melakukan sesuatu untuknya sewaktu-waktu. Dia sudah terbiasa dengan Xander. Baik itu masalah besar at
Read more