Tidur Sela yang semula nyenyak, kini harus terganggu saat ada yang menarik tubuhnya dari belakang dan memeluknya dengan erat. Sentuhan itu hangat, kokoh, dan terasa begitu familiar."Lian, lepas tanganmu," pinta Sela dengan mata yang masih terpejam. Karena ia pikir sang sahabat yang memeluknya. Mengingat lagi, malam ini ia memang tidur ditemani Lian, sahabatnya, karena hatinya sedang tidak tenang sejak Kai pergi tanpa kabar yang jelas.Namun, pelukan yang ia dapatkan justru semakin erat, seakan orang itu tidak berniat melepaskannya. Nafas hangat menyentuh tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang. Sela terpaksa membuka kedua bola matanya.Begitu sadar sepenuhnya, aroma parfum maskulin memenuhi indra penciumannya. Wangi yang begitu ia kenal, yang diam-diam selalu ia rindukan. Itu jelas bukan parfum Lian.Dengan penerangan lampu tidur yang lembut, Sela menatap tangan besar yang melingkar di pinggangnya. Tangannya kokoh, berurat, dan kemeja yang dikenakan pria itu masih sama seperti se
Read more