Sinar matahari pagi menembus celah tirai jendela ruang isolasi VVIP RS Lohitajaya, membawa kehangatan yang mengusir sisa-sisa hawa kematian dari malam sebelumnya.Di atas ranjang pesakitannya, Nyonya Dian Ayu Aji Saka perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa ringan. Rasa mual yang seolah mengoyak organ dalamnya telah lenyap tak bersisa. Ia menarik napas panjang, dan alih-alih mencium bau busuk kembang kantil, ia menghirup udara pagi yang bersih.Di bilik-bilik sebelahnya, Handoko Sutopo, Wulan, Ratri, dan Riyan juga mulai siuman. Rona wajah mereka yang sebelumnya memucat seperti mayat kini kembali bersemu merah."Mama..." Ratih menghampiri ranjang ibunya dengan mata sembab, menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu.Dian menatap putrinya, lalu pandangannya beralih pada sosok pemuda berjas putih yang sedang berdiri tenang di sudut ruangan. Kukuh....Namun, ada sesuatu yang aneh terjadi pada diri Dian. Dulu, setiap kali ia menatap Kukuh, yang muncul di kepalanya adalah rasa muak,
Read more