"Apa yang kau lihat sekarang, Kuh?"Suara berat dan berwibawa milik Dokter Harsha mendadak bergema jernih di dalam ruang kesadaran Kukuh. Komunikasi gaib melalui sambungan telepati itu terasa sangat dekat, seolah Sang Dewa Medis sedang duduk bersila tepat di sampingnya, padahal pria sepuh itu tengah memantau dari kejauhan di ruang kerjanya yang berada puluhan kilometer jauhnya di pusat kota.Kukuh yang masih memejamkan mata di atas hamparan batu datar di puncak Bukit Klampis Ireng, mengukir senyum tipis di bibirnya. Ketenangan malam dan desir angin seolah menjadi teman barunya."Semuanya, Dokter. Saya bisa melihat semuanya dari sini, tapi dalam bentuk dan wujud yang sama sekali berbeda," balas Kukuh di dalam hatinya, membalas proyeksi telepati gurunya. "Di balik kelopak mata saya, tidak ada lagi warna solid atau benda padat dari dunia fisik. Yang terhampar di sekeliling saya hanyalah jalinan benang-benang cahaya yang terus bergerak, berdenyut, dan bernapas.""Bagus sekali. Itu tandany
Read more