"Kuh... kita sudah masuk sejauh ini, tapi kok belum ada tanda-tanda ujung desanya? Kita sudah muter-muter setengah jam lho."Suara Ratih yang parau dan bergetar memecah keheningan di dalam kabin SUV. Tangannya masih terus menggenggam erat lengan ibunya. Udara di dalam mobil terasa semakin sumpek, padahal pendingin ruangan menyala maksimal."Sabar, Tih. Jalannya memang sedikit berliku dan banyak lubang," jawab Kukuh dengan nada yang sangat tenang, matanya tak lepas dari jalanan tanah di depan mereka. "Tapi dari tadi kita tidak menemui persimpangan lain. Berarti arah kita masih benar."Nyonya Dian yang duduk di sebelah Ratih mengusap wajahnya yang berkeringat dingin. "Kamu nyetirnya yang benar, Kuh! Jangan sampai ban kita selip atau terperosok ke lumpur. Kalau mobil ini mogok di sini, tamat riwayat kita!" omel Dian, mencoba menutupi ketakutannya dengan sisa-sisa keangkuhannya."Iya, Bu Dian. Saya sudah berhati-hati," balas Kukuh tanpa terpancing emosi sedikit pun.Pemuda itu tiba-tiba m
Read more