"Buku apa itu, Kuh? Baunya apek sekali, nyengat sampai ke hidung."Ratih mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk, menatap heran ke arah Kukuh yang tengah duduk bersila di atas karpet tebal kamar utama Mansion Cokro. Di pangkuan pemuda itu, tergeletak sebuah buku kuno bersampul kulit kusam yang tampak rapuh dimakan zaman."Oh, ini? Cuma buku tua, Tih," jawab Kukuh santai. Jari besarnya membelai sampul buku itu dengan sangat hati-hati agar tidak membuat kertasnya hancur. "Aku membelinya dari seorang kakek-kakek berpakaian lusuh waktu aku naik angkot beberapa minggu lalu. Waktu itu kakek tersebut memegang buku ini, dan entah kenapa, perasaanku sangat kuat menyuruhku untuk membelinya. Kakek itu juga bilang kalau ini bukan buku sembarangan.""Hati-hati lho, Kuh. Kejadian mengerikan di Randu Alas kemarin masih bikin aku sering merinding kalau malam," pesan Ratih sambil bergidik pelan, teringat kembali pada wajah kanibal para konglomerat itu. Gadis itu lalu naik ke atas ranjang dan
Read more