"Bapak, hari ini cuacanya bagus."Kukuh duduk bersila di depan nisan sederhana itu. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang masih dingin oleh embun pagi. Di atas nisan, sehelai daun kamboja kering tergeletak, jatuh dari pohon tua yang menaungi makam itu sejak puluhan tahun lalu."Saya bawa kopi. Kopi tubruk yang Bapak suka. Gula dua sendok. Tidak pakai susu." Kukuh meletakkan gelas plastik di samping nisan. "Ratih bilang saya harus kurang-kurangi ngomong sama nisan. Tapi saya bilang, kalau nggak ngomong sama Bapak, nanti saya lupa suaranya Bapak."Angin pagi berhembus pelan. Membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang sudah mulai layu.Kukuh tersenyum. Senyum kecil yang tidak dipaksakan."Tiga hari yang lalu, saya sudah selesaikan semuanya, Pak. Rantai itu sudah putus. Bowo, Dimas Aji, dua belas praktisi itu... semuanya sudah bebas. Bukan bebas dari penjara. Bebas dari..."Kukuh berhenti. Mencari kata yang tepat."...dari suara yang selama ini menyuruh mereka membenci kita."K
Read more