Ombak Selat Sunda menghantam lambung perahu fiber kecil itu dengan kasar.Langit di atas mereka kelabu pekat, menggantung rendah seperti atap chì yang siap runtuh. Angin membawa bau belerang yang begitu tajam hingga membuat tenggorokan terasa perih. Di kejauhan, silhouette Gunung Anak Krakatau berdiri seperti raksasa yang sedang tidur, sesekali memuntahkan asap hitam dari puncaknya."Hari kelima," ucap Manager Pratiwi, matanya tidak lepas dari layar tablet yang dilindungi plastik kedap air. "Dua puluh lima hari tersisa, Mas. Kalau kita tidak masuk ke celah kaldera sebelum air pasang sore ini, kita harus menunggu sampai besok pagi."Kukuh berdiri di haluan, mencengkeram tali tambat. Perban di balik jaketnya masih terasa ngilu, terutama saat angin laut yang lembap menyentuh luka bakar Rajah Geni yang belum tuntas sembuh."Tidak ada waktu untuk menunggu besok, Manager," sahut Kukuh. "Pak Bimo, percepat."Pak Bimo, nelayan lokal yang mereka sewa di Anyer, menggelengkan kepalanya sambil mem
続きを読む