"Tiga pasien, Mas Kukuh. Dalam satu jam."Suara Dokter Adhi terdengar serak, memecah keheningan koridor Bangsal Umum C RS Lohitajaya. Dokter muda itu menyandarkan punggungnya ke dinding, mengusap wajahnya yang pucat dan kelelahan.Kukuh menutup papan rekam medis di tangannya. "Gejalanya identik dengan yang pertama?""Persis," jawab Dokter Adhi. "Suhu tubuh anjlok drastis, napas berat, dan ada bau sangit di keringat mereka. Seperti dupa yang hangus. Ini bukan penyakit medis, Mas. Infus dan oksigen tidak memberi respons apa pun."Kukuh menatap pintu kamar isolasi di ujung lorong. "Dokter Harsha sudah tahu?""Ayah sedang menangani pasien kedua di ruang observasi Lantai 41. Beliau minta Mas Kukuh cek sirkulasi udara di bangsal ini."Kukuh mengangguk. Tangannya tanpa sadar menyentuh dada kemejanya. Di balik kain itu, liontin dua daun kamboja berdenyut hangat. Satu minggu sejak ia keluar dari dimensi cermin, dan benda ini sudah menjadi bagian dari ritme jantungnya.Kukuh memejamkan mata. Me
더 보기