Sosok itu tersenyum. Senyum yang sangat tua. Sangat sabar. Sangat hangat."Duduklah, Nak Kukuh. Kau sudah berjalan sangat jauh."Kukuh menatap sosok di depannya. Menatap ukiran rajah putih yang menyala di seluruh tubuhnya. Menatap mata yang sangat dalam dan sangat tenang. Dan perlahan, Kukuh duduk. Bersila. Di lantai batu yang hangat."Kau Eyang Amerta?" tanya Kukuh.Sosok itu tidak menjawab. Hanya tersenyum. Dan kemudian wajahnya berubah.Bukan berubah seperti topeng yang dilepas. Bukan berubah seperti ilusi yang pudar. Berubah seperti cermin yang tiba-tiba memantulkan sesuatu yang berbeda. Dan di tempat sosok tua itu tadi duduk, kini duduk seseorang yang sangat Kukuh kenal.Dirinya sendiri.Kukuh membeku.Bayangan itu tersenyum. Senyum yang sama. Mata yang sama. Wajah yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Di mata bayangan itu, tidak ada api. Tidak ada tekad. Tidak ada alasan untuk terus berdiri.Hanya kelelahan."Halo, Kukuh," ucap bayangan itu. Suaranya sama. Persis sama. Tapi
Magbasa pa