Suara mesin dua SUV hitam memecah keheningan malam di pelataran rumah joglo tua itu. Lampu sorot kendaraan menyapu area yang masih berbau anyir darah dan sisa energi gaib yang belum sepenuhnya menguap.Pintu mobil terbuka. Kyai Agus melangkah turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Di belakangnya, Pak Jaka mengikuti dengan postur tegap, matanya langsung menyapu seluruh pelataran dengan kewaspadaan seorang prajurit.Namun begitu mata Kyai Agus menangkap pemandangan di hadapannya, langkah pria sepuh itu terhenti.Di tengah pelataran, Dimas Aji Sasmita berlutut. Tubuh konglomerat itu gemetar, kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya terbuka di atas paha seperti orang yang menyerah total. Di sekelilingnya, dua belas praktisi bayaran yang tadinya terikat rantai gaib kini duduk bersila dengan wajah kosong namun bebas tanpa bekas luka sedikit pun. Dan di sudut terdekat, Bowo terduduk di lantai tanah, matanya merah, napasnya tersengal, tangannya masih gemetar.Kyai Agus menelan ludah
Read more