"Naik, Mas. Mbak. Boncengan tiga ya."Pemuda pertama mematikan mesin motornya. Tersenyum. Giginya putih di bawah cahaya lampu yang redup. Umurnya mungkin dua puluhan. Kaos oblong. Celana jeans yang sudah pudar. Sandal jepit."Boncengan tiga?" Farhan mengernyit. "Motornya muat?""Muat, Mas. Udah biasa." Pemuda itu menepuk jok belakang motornya. "Jalannya nggak bisa buat mobil. Cuma motor. Dan kalau boncengan dua, jalannya lama. Boncengan tiga, lebih cepat."Farhan menatap motor itu. Motor bebek tua. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Joknya sudah retak. Dan di belakangnya, tidak ada tempat untuk tiga orang. Secara fisik. Secara logika. Secara hukum fisika mana pun."Aku nggak muat," ucap Farhan."Muat, Mas. Tinggal geser dikit."Bella sudah naik. Tanpa protes. Tanpa pertanyaan. Duduk di tengah. Tas ransel di pangkuan. Buku catatan masih terbuka di tangannya.Bangkit naik di belakang Bella. Kamera di leher. Tidak bicara. Hanya duduk.Farhan menatap Kukuh. Kukuh menatap Farhan.
อ่านเพิ่มเติม