Ruang rapat Lantai 41 tidak pernah terlihat seperti ini.Meja bundar besar di tengah ruangan sudah dikelilingi kursi. Bukan kursi dokter. Bukan kursi perawat. Kursi-kursi yang ditarik dari berbagai sudut rumah sakit. Dan di setiap kursi, duduk seseorang yang tidak pernah duduk bersama di satu ruangan.Kukuh berdiri di ujung meja. Di sampingnya, Ratih. Di belakang mereka, Dokter Harsha dan Dokter Adhi.Pintu terbuka.Kyai Agus Sapto Joyo masuk pertama. Pria paruh baya dengan tubuh tegap dan tangan yang penuh kapalan. Rajah Wesi Gen Dua Puluh Dua. Di lengannya, ukiran besi cair menyala samar di balik lengan baju yang digulung."Kuh," ucap Kyai Agus. Mengangguk. Satu kali. Tidak perlu kata-kata lebih."Kyai." Kukuh mengangguk balik. "Terima kasih sudah datang.""Aku sudah menunggu momen ini selama dua puluh tahun." Kyai Agus duduk. "Rajah Wesi siap."Pintu terbuka lagi.Bima Kanaka Kencana masuk. Kemeja sutra putih sudah diganti dengan kaos hitam sederhana. Tidak ada jam tangan emas. Tid
Baca selengkapnya