"Kuh, kau bawa jaket tebal nggak?"Kukuh menoleh dari jendela bus. Farhan sudah duduk di sampingnya dengan tas ransel yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuhnya. Di pangkuannya, tiga bungkus roti. Di saku jaketnya, dua botol air mineral. Di lehernya, bantal leher bergambar panda."Bawa satu," jawab Kukuh."Satu doang? Di Merbabu dingin, Kuh. Bisa nol derajat kalau malam.""Aku tahan dingin.""Ya enak jadi kau. Aku nggak." Farhan mengunyah rotinya. "Terakhir kali camping di Lembang, aku nggak bisa tidur semalaman. Kedinginan. Kau malah tidur kayak batu."Kukuh tersenyum. Tidak menjawab. Karena alasan sebenarnya bukan karena ia tahan dingin. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa ia jelaskan. Jadi ia hanya mengangguk dan menatap keluar jendela.Bus sudah bergerak. Meninggalkan parkiran fakultas. Menyusuri jalan kota yang masih ramai oleh kendaraan pagi.Di belakang mereka, Bella duduk dengan buku catatan terbuka. Pulpen di tangan. Kacamata bertengger di hidung. Sudah mencatat sejak bus
อ่านเพิ่มเติม