Retakan di pintu itu terus melebar perlahan. Cahaya hitam yang keluar darinya mulai memenuhi udara di sekitar mereka seperti kabut tipis yang hidup.Pelangi berdiri di depan Asa tanpa sadar. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap tidak mundur.Entah kenapa…semakin lama mendengar suara Eren…semakin terasa bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah terlalu jauh.Asa masih menunduk.Cahayanya tidak stabil.“…Eren…”Suara itu terdengar seperti bisikan penuh rasa bersalah.Dari balik pintu, mata gelap itu tetap memandang lurus ke arah Asa.“Akhirnya kau masih mengingat namaku.”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu terasa seperti luka yang membuka dirinya perlahan.Pelangi menoleh sedikit ke arah Asa.“Kamu… dekat sama dia ya…”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…dia… sahabat…”Kalimat itu membuat dada Pelangi terasa sesak.Karena sekarang semuanya mulai masuk akal.Rasa bersalah Asa begitu besar bukan hanya karena kehilangan seseorang.Namun karena yang hilang adalah orang yang s
더 보기