Nyanyian itu tidak berhenti. Ia terus mengalir, namun kini berbeda. Tidak lagi samar, tidak lagi hanya berupa getaran tanpa arah. Kini ia membawa bentuk, meskipun bukan dalam kata kata yang utuh. Ia seperti serpihan cerita yang terpecah, namun perlahan mulai menyatu.Pelangi berdiri dengan mata terpejam. Air matanya masih mengalir, namun bukan karena sedih sepenuhnya. Ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan, namun ia mengerti.“Aku… bisa lihat lebih jelas sekarang,” bisiknya.Aruna menatapnya dengan tenang. “Apa yang kamu lihat?”Pelangi menarik napas panjang.“Dia… dulu tidak sendirian.”Sunyi.Sosok besar itu langsung mencatat perubahan pola.“Informasi baru muncul melalui interpretasi emosional,” katanya pelan.Pelangi membuka matanya sedikit, menoleh ke arahnya.“Ini bukan sekadar interpretasi,” katanya pelan, “ini kayak… dia yang nunjukin.”Aruna mengangguk kecil.“Iya. Dia tidak berbicara dengan kata. Dia membiarkan kita merasakan.”Nyanyian itu berubah
Read more