Jemari Dimas bergerak untuk memijat pelipisnya, lalu bergumam pada dirinya sendiri, "Dimas, kamu seharusnya nggak memperlakukannya seperti itu. Apa aku masih punya kesempatan untuk meminta maaf?"Namun, setelah itu, Dimas tertawa pahit. "Meskipun ada ... aku rasa dia juga nggak akan memaafkanku."Saat itu, ketukan lembut di pintu langsung menyentakkan Dimas dari lamunannya. Dia memanggil dengan tanpa menoleh, "Masuk."Begitu pintu terbuka, terlihat Alvin yang sedang memegang tablet dan setumpuk dokumen. Dia mengingatkan dengan sopan, "Pak, rapatmu akan dimulai sepuluh menit lagi."Dimas mengangguk. Dia melirik jam tangannya, lalu berdiri dan merapikan jasnya. "Kita mulai dengan proyek Osema.""Baik, Pak. Tim pengembangan sudah menyelesaikan semua tahap awal, mereka hanya menunggu konfirmasi pengiriman material dari mitra lokal kita di Nihola," kata Alvin."Bagaimana dengan Faranka?" tanya Dimas saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang konferensi."Masih ada kendala dalam neg
Baca selengkapnya