Tujuh tahun kemudian."Jev, jangan singkirkan brokolinya," ucap seorang wanita sambil tetap sibuk memasak di depan kompor. Tanpa perlu menoleh, dia tahu bahwa anak laki-lakinya pasti sedang menghindari sayuran di piringnya."Bu, aku nggak suka," gumam bocah bermata biru itu perlahan. Bibir kecilnya mengerucut kesal ketika melanjutkan, "Apa aku boleh makan yang lain saja tanpa brokoli?"Anisa menghela napas sabar. Dia melepaskan celemeknya dan mematikan kompor, lalu berjalan ke meja makan, tempat putranya duduk membungkuk di depan sarapan yang baru setengah habis."Jevan Kumala," ucap Anisa tegas. Suaranya tenang, tetapi sama sekali tidak bisa diabaikan."Ya, Bu," jawab Jevan sambil perlahan mengangkat kepala.Anisa bertanya, "Kamu tahu nggak betapa bagusnya brokoli untuk tubuhmu?" Mendengar itu, Jevan cemberut. Tentu saja dia tahu, tetapi tetap saja dia tidak suka."Makan sedikit saja. Jangan sisakan terlalu banyak di piring. Bukannya Bu Aulia bilang, terlalu pilih-pilih makanan itu co
Read More