Elena berdiri di hadapan Harli sambil menggenggam jemarinya sendiri yang penuh keringat dingin, ruangan itu terasa terlalu sempit untuk bernapas.Harli lalu bangkit, mendekat, menelusuri wajah Elena dengan tatapan liar yang membuat lutut Elena langsung melemah.“Kalau kau belum siap,” ucap Harli datar namun menusuk, “ya tidak apa-apa. Ibu ehm, maksudku ibumu tetap berada di ambang maut. Tergantung kamu, Elena. Semua… tergantung kamu.”Jantung Elena berdegup seperti palu godam. Ia mengusap air matanya cepat-cepat dan mencoba berdiri tegak.“Aku… akan melakukannya,” bisiknya gemetar.“Nice,” ucap Harli sambil meraih tangan Elena. “Ikut aku.”Ia menarik Elena menuju kamar utama.Begitu pintu tertutup, Elena refleks kaku tak bisa melakukan apapun.Namun Harli tak peduli, ia langsung mendorong Elena ke kasur dan menindihnya lalu mulai menciumi leher jenjang Elena yang wangi.Elena yang begitu malu, jijik, merasa kotor, bercampur jadi satu. Jadi menahan pundak suaminya itu.“Matikan lampuny
Read more