Dengan cepat Anya mengatup mulutnya rapat-rapat, ia juga sempat memukul pelan mulutnya itu, mulut yang membuatnya seperti orang bodoh."E ... Eh, Nona kenapa?" Dokter Ana menatap khawatir pada gadis itu.Anya tertawa kecil, lalu ia mengatakan. "Aku nggak apa-apa.""Hm, kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan saja." Dokter Ana akan selalu menjawab apapun yang akan ditanyakan sang pasien.Anya mengangguk paham, ia mencoba menanyakan tentang keluhannya pada inti tubuhnya, dan dengan baik Dokter Ana menjawab semua pertanyaan itu.Anya senang dengan respon baik dari sang Dokter, dan seketika ia teringat dengan tingkah Leon yang tadi, tingkah membuatnya tidak habis pikir.Dioleskan dengan Rehan? Itu sungguh gila, pikir Anya."Kalau begitu saya pamit, Nona." Dokter Ana bangun dari duduknya dan diikuti oleh asistennya.Anya ikut bangun. "Baik, terima kasih, Dokter." Suaranya sangat lembut.Setelah Dokter Ana dan asistennya membungkuk sopan pada Anya, mereka segera pergi dari kamar tersebut.A
Read more