Istirahat makan siang telah usai, namun atmosfer di balik layar masih terasa sunyi. Lucia memilih menghabiskan waktu di dalam ruang rias bersama Hana, enggan beranjak ke tempat privat Arthen seperti biasanya.Hana yang bertugas mengantarkan kotak makanan hanya bisa diam, sedikit segan melihat bagaimana Lucia mengaduk makanannya dengan helaan napas berat. Di tengah keheningan itu, pintu ruang rias diketuk pelan. Manajer Rey melangkah masuk sembari membawa dua cup kopi hangat."Minum ini," ujar Rey tenang, meletakkan kopi di atas meja. Tatapannya tertuju pada Lucia melalui pantulan cermin. "Sutradara ingin adegan sore ini terasa hidup, Lucia. Aku tidak tahu apa yang terjadi di apartemen tadi pagi, tapi profesionalitas berarti tahu kapan harus meredam ego. Jangan biarkan suasana hati kalian memengaruhi kenyamanan kru di luar."Lucia terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas perlahan. Kalimat Rey menyentil kesadarannya. "Aku mengerti, Rey. Jangan khawatir, aku tidak akan membawa urusan prib
Read more