"Selamat atas pencapaian luar biasamu malam ini, Nona Lucia. Pidato yang sangat menyentuh," sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan wibawa memotong kedekatan Arthen dan Lucia.Alexander Valerius berdiri di sana, menatap mereka berdua dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Aura kepemimpinannya yang kuat seketika mengembalikan atmosfer menegangkan di meja nomor satu.Lucia refleks menarik diri, membungkuk hormat dengan canggung. "T-terima kasih banyak, Tuan Alexander. Ini semua tidak akan terjadi tanpa kepercayaan yang diberikan oleh V-ACE.""Kau pantas mendapatkannya. Bakatmu adalah aset berharga bagi kami," ujar Alexander formal. Matanya kemudian melirik sekilas ke arah wajah Lucia yang masih menyisakan jejak air mata. "Hana, bawa artismu ke ruang rias sebentar. Wajahnya perlu dirapikan sebelum sesi wawancara eksklusif nanti."Hana, yang sejak tadi berdiri kaku di belakang mereka, langsung tanggap. Insting asistennya mendadak tajam melihat situasi ini. "Ah, benar! Mari, Kak L
Read more