Lucia mendekat, mengambil dasi sutra hitam yang tergeletak di atas meja rias, lalu menyampirkannya di leher tegap sang suami.Dengan telaten dan penuh kelembutan, Lucia merapikan simpul dasi Arthen. Pria itu menunduk, menatap wajah istrinya yang polos tanpa riasan tebal namun tetap memancarkan pesona alami yang memikat. Begitu simpul dasi terpasang sempurna, Arthen merengkuh pinggul Lucia dan mengecup bibirnya dengan penuh cinta."Selepas pulang aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, istriku sayang. Tunggu aku pulang, aku pasti akan membawakan sesuatu yang menarik," bisik Arthen rendah, suara beratnya terasa menggetarkan.Lucia menyuling senyum tipis, menyikut pelan dada Arthen. "Jangan aneh-aneh."Arthen menyeringai goda, matanya berkilat jenaka. "Kalau kamu bilang begitu, aku jadi memikirkannya, Sayang. Bagaimana dengan alat-alat untuk seks kita nanti malam, hm?""Arthen, ih~!" Lucia mencubit pinggang Arthen gemas, membuat rona merah
Huling Na-update : 2026-07-25 Magbasa pa