"Aku tidak akan pergi malam ini," suara rendah Arthen memecah keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur yang remang. Lucia, yang masih duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan mata sembab, menatapnya ragu. "Kau serius? Kau punya ribuan urusan yang lebih penting daripada menjagaku di sini." Arthen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik selimut hingga sebatas dada Lucia, gerakannya canggung namun penuh kehati-hatian. "Bagiku, memastikanmu tidak hancur sebelum film ini selesai adalah urusan yang paling penting saat ini." "Hanya karena film itu?" bisik Lucia, suaranya parau. Arthen terdiam sejenak, jemarinya sempat berhenti di atas lipatan selimut. "Tidurlah. Aku akan ada di sofa ruang tengah. Jika kau bermimpi buruk atau butuh apa pun, panggil aku. Jangan pernah merasa kau sendirian lagi, Lucia." "Terima kasih, Arthen... untuk semuanya," lirih Lucia sebelum akhirnya rasa lelah yang luar biasa menariknya ke dalam alam bawah sadar. Malam itu, untuk pertama
Read more