"Cepat, Hana! Aku tidak mau menghadapi Arthen karena telat, apalagi setelah kejadian semalam!" Lucia mendesak dengan suara rendah, jemarinya meremas ujung sweter dengan gelisah saat mobil melaju membelah jalanan pagi menuju lokasi syuting.Hana melirik dari spion tengah, mencoba memberikan senyum menenangkan. "Saya yakin semuanya akan baik-baik saja, Kak Lucia," sahut Hana lembut. "Kakak sudah menceritakan semuanya tadi, dan menurutku, Tuan Arthen pasti mengerti kenapa Kakak bereaksi seperti itu.""Tetap saja aku tidak tenang. Kau tahu sendirikan Hana bagaimana Arthen itu," gumam Lucia sembari menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Pikiran tentang Arthen yang mungkin akan menatapnya dengan aura dingin atau mendiamkannya membuat perut Lucia mulas karena cemas.Begitu mobil berhenti, Lucia turun dengan napas tertahan. Pemandangan yang menyambutnya berbeda dari ekspetasinya. Pemandangan yang justru membuatnya mematung di tempat.Lokasi syuting hari
Read more