Saat itu sudah mendekati tengah hari ketika Dimas memutuskan untuk keluar sebentar berjalan-jalan. Cuaca mendung, tapi udaranya sejuk dan tidak menyengat. Ia merasa ingin mencoba sesuatu yang ringan sebelum jadwal berikutnya. Selama ini, ia sering mendengar cerita tentang maid cafe di Jepang dan rasa penasaran akhirnya menang. Yaho sedang duduk di ruang tamu suite, fokus menatap ponselnya, ketika Dimas keluar dari kamar mengenakan hoodie tipis, jeans gelap, dan sepatu kets. Penampilannya santai, jauh dari kesan aristokrat sore tadi. “Yaho,” kata Dimas sambil meraih dompet dan ponselnya, “mau ikut ke maid cafe?” Yaho mendongak, berkedip sekali, lalu tersenyum tipis. “Maid cafe? Serius? Baik, saya tahu beberapa tempat yang cukup terkenal. Tidak jauh dari sini.” Dimas mengangguk. “Kalau begitu, ayo.” Mereka naik taksi dan menuju Akihabara, distrik yang dikenal dengan lampu neon, toko elektronik, d
Ler mais