Witok, tok, detok. Begitu Dimas mengakhiri panggilan teleponnya, terdengar ketukan lembut di pintu. Ia langsung tersenyum ia tahu betul ketukan selembut itu milik Bella. Gadis itu selalu mengetuk dengan hati-hati. “Masuk.” Dimas memang sudah menunggu mereka. Saat ketiga gadis itu masuk, senyumnya semakin lebar, suasana hatinya membaik setelah mendengar kabar tentang kondisi ibunya. Anya, seperti biasa, masuk dengan wajah memerah. Ia selalu tersipu setiap berada di depan Dimas dan bukan rahasia lagi bahwa ia sangat menyukainya. Ashmika tetap dengan sikap percaya dirinya yang berlebihan, sementara Bella berdiri agak ke belakang, ekspresinya terlihat sedikit murung. “Ashmika, kamu benar-benar berani mengirim surat resmi ke mejaku dan meminta meja biliar senilai lima puluh juta rupiah?” Dimas langsung ke inti persoalan. Ashmika sama sekali tidak terlihat terpengaruh. Ia bahkan melangkah maju, berdiri dengan dada dibusungkan. “Memangnya apa yang salah dengan sedikit hiburan? Seluru
อ่านเพิ่มเติม