Seluruh lapangan voli Universitas Indonesia mendadak hening. Hanya napas berat Ricky, kapten tim utama, yang terdengar. Semua mata tertuju pada Dimas, mahasiswa baru yang tadinya tak dikenal siapa pun. Di pinggir lapangan, pelatih bertubuh tambun berdiri di samping Dimas, memperbaiki posisi tangannya yang siap melakukan serve.“Anak muda,” kata pelatih serius tapi ramah, “angkat kaki kanan sedikit, lalu ayun bola dengan momentum penuh. Saat kaki mendarat, pakai seluruh tenaga lengan dan pergelangan. Pegang bola nyaman, manfaatkan bahu. Coba, seperti ini.”Pelatih mendemonstrasikan sekali, lalu mundur, memberi isyarat agar Dimas mencoba sendiri.Di sisi lain lapangan, Ricky masih terengah-engah. Sebagai ace tim, ia biasa menghadapi smash keras tapi kali ini, ia tak mampu menahan satu pun bola dari Dimas.Saat Dimas bersiap serve lagi, Ricky mengangkat tangan tinggi.“Air… saya butuh air,” katanya serak, jauh dari karisma biasanya.Asisten pelatih kurus berkacamata berlari membawa botol
Last Updated : 2026-01-02 Read more