Duke Kurtcher tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat wajahnya sedikit, cukup untuk menatap lurus ke arah singgasana tempat Reis duduk. Sorot matanya tetap tenang, seolah keputusan yang baru saja ia ucapkan bukan sesuatu yang tergesa, melainkan sesuatu yang telah ia pikirkan sejak awal.“Saya bersedia menjadi saksi,” ucapnya pelan, “bukan sebagai tersangka.”Sejenak, aula itu seperti kehilangan keseimbangannya.Bisik-bisik langsung pecah di berbagai sudut. Tidak keras, tetapi cukup untuk mengganggu ketenangan yang sejak tadi dijaga dengan ketat. Para bangsawan saling berpandangan, beberapa mengernyit, sebagian lainnya tampak terkejut. Pernyataan itu terlalu tiba-tiba dan terlalu berani.Lorrene menarik napas panjang, pelan, hampir tak terlihat. Di atas singgasana, Reis mengangkat tangannya.Gerakan kecil itu langsung membungkam semuanya.Suasana kembali jatuh dalam diam, secepat riuh tadi muncul. Tidak ada yang berani bersuara lagi, seolah satu detik keterlambatan saja bisa berak
Last Updated : 2026-04-22 Read more