Helena menatap Calix tanpa berkedip, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun keraguan yang tersisa dalam diri pria itu. Sorot matanya tajam, penuh tekanan yang tidak perlu diucapkan dengan suara keras. Dalam diamnya, ada tuntutan yang jelas jawaban, kesetiaan, dan hasil.“Jadi sekarang,” ucapnya perlahan, nadanya tenang namun mengandung sesuatu yang lebih dalam, “kau memiliki rencana yang bagus untukku?”Calix tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak di hadapan jeruji itu, menatap wanita yang selama ini menjadi pusat dari begitu banyak ambisi. Wajahnya tetap tenang, namun rahangnya mengeras sedikit, menandakan bahwa kesabarannya telah mencapai batas yang tidak lagi bisa ia abaikan.“Aku muak menunggu,” jawabnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas. Tidak ada lagi upaya untuk menyembunyikan nada tidak sabarnya. “Tidak semua orang bisa menunggu selamanya. Dan semakin lama kita diam… semakin kecil peluang kita untuk benar-benar menaklukkan kekaisaran ini.”Kata-katanya jatuh tanpa h
Read more