"I-iya, eh, bukan!" Wajah Ziana seketika memerah padam. Pria itu pasti mengatakan hal itu karena pesan suara waktu itu!"Apanya yang iya atau bukan? Sepasang kekasih bersikap mesra itu wajar. Ziana, tolong ukur ulang ukurannya. Dulu kamu juga sering membantu ayahmu mengukur baju, ‘kan? Sekarang mataku sudah kabur karena tua, asistenku juga sedang nggak ada. Tolong bantu ya, jangan sampai salah lagi. Sayang sekali pacarmu punya postur tubuh sebagus ini.""Paman Indra, dia bukan ...." Belum sempat Ziana menyelesaikan kalimatnya, seutas pita ukur sudah berada di tangannya.Dia terpaksa berjalan ke hadapan Vihan. "Kakak, angkat tanganmu sedikit.""Oke." Suara pria itu terdengar seperti sedang menahan tawa, membuat Ziana merasa seolah-olah dia sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Dan memang terlihat seperti itu.Setelah mengukur lebar bahu dan panjang lengan, dia harus mengukur lingkar dada. Ziana berjinjit, kedua tangannya melingkari tubuh pria itu. Wajahnya hampir menempel di
Baca selengkapnya