Silvia diam-diam menggertakkan giginya. Dia segera mengambil sesuatu dari tasnya. Dia menarik lengan Farel. "Tuan Farel, jangan bertengkar karena aku. Ini salahku, biar aku minta maaf pada Paman."Dia kemudian menuangkan segelas anggur merah dan menyodorkannya pada ayah Ziana, Hardi. "Paman, kamu pasti rindu kehidupan lama, ‘kan? Aku membawakan anggur merah terbaik untukmu. Setelah minum ini, kita berdamai lagi, ya."Hardi yang sudah lemah karena obat-obatan, tidak mampu melawan tenaga Silvia. Dia mencoba menghindar namun bahunya ditekan kuat."Lepaskan dia! Dia sedang sakit, nggak boleh minum alkohol!" teriak Ziana meronta.Petugas hendak melerai, namun tertahan oleh tatapan Farel. Farel berkata dengan nada acuh, "Silvia sudah bertanya pada perawat, minum sedikit nggak akan jadi masalah. Jangan berpikiran sempit, Silvia menyiapkan ini sepanjang pagi untukmu."Baginya itu hal sepele, padahal dokter sudah memperingatkan Ziana tiga kali bahwa ayahnya tidak boleh menyentuh alkohol. S
Read more