Memikirkan hal itu, hati Farel sedikit tenang. Namun, Ziana kali ini memang agak keterlaluan, dia harus diberi pelajaran agar ingat. Dia mencari alasan untuk membawa Tio keluar dari bangsal. "Tio, terus awasi detektif swasta itu." "Tuan Farel, Ziana sepertinya tidak peduli pada detektif itu. Detektif itu sepertinya tidak punya bukti penting di tangannya," ujar Tio. Farel tersenyum sinis. "Kamu nggak kenal Ziana. Dia pandai menggertak. Detektif itu pasti memegang sesuatu. Aku mau kamu mendapatkan bukti itu lebih dulu darinya. Kalau sudah ada bukti di tangan, Ziana hanya bisa menurut." Tio mengangguk. "Baik."Setelah itu, Farel berbalik menuju ruang dokter. Saat Tio hendak pergi, Silvia membuka pintu dan keluar. "Pak Tio, kuharap kamu masih ingat transaksi kita." "Nona Silvia, setelah menemukannya, aku akan memberitahumu lebih dulu," bisik Tio singkat. Silvia menyeringai. Dia belum kalah....Menjelang malam, Silvia akhirnya merilis pernyataan maaf. Ziana merasakan sendiri ap
Read more