Nadine berhenti sejenak, tangannya yang sedang memegang gelas air putih melambat di udara. "Aku cuma mau Papa tau perkembangannya jelas.""Jelas banget, malah," sahut Pak Salim, kali ini dengan nada menggoda yang jarang sekali ia pakai pada putrinya. "Sampai gaya kerjanya, cara dia nyusun jadwal, cara dia bikin opsi cadangan—semua kamu hafal."Nadine meletakkan gelasnya, berusaha terdengar biasa saja. "Gedung itu kan proyek tambahan aku, Pa. Aku cuma berusaha menjaga kepercayaan Papa.”Pak Salim tersenyum tipis, lalu kembali meraih tabletnya, seolah tidak ingin membuat putrinya terlalu tersudut. "Kedengarannya Pak Damar ini orangnya simpatik, ya. Atau apalah namanya—orang yang gampang bikin orang lain nyaman kerja sama dia."Nadine tidak langsung menjawab. Ia meraih tasnya dari kursi sebelah, berdiri lebih cepat. "Aku berangkat dulu, Pa," katanya, suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya. "Nanti aku kabari lagi perkembangannya."Ia mendekat untuk mencium pipi ibunya yang sejak tadi
Last Updated : 2026-10-05 Read more