“Zaitunnya masih utuh," suara Rama terdengar hangat, beradu dengan denting halus piano yang mengalun di sudut restoran. Sabrina tersentak, garpunya tertahan di udara. Ia menatap piringnya, di mana potongan zaitun hitam telah dipinggirkan dengan rapi di sudut piring, sebuah kebiasaan lama yang ternyata masih diingat pria itu. Di bawah lampu kristal yang berpijar redup, wajah Rama tampak begitu tenang. Tidak ada desakan, tidak ada tuntutan. Hanya ada tatapan yang seolah menawarkan tempat bercerita yang aman."Aku tidak tahu kalau kau masih mengingat detail sekecil itu," jawab Sabrina lirih, mencoba memaksakan sebuah senyum kecil yang tidak sampai ke mata."Ada beberapa hal yang memang tidak seharusnya dilupakan, Sab," sahut Rama lembut. Ia tidak mengejar percakapan itu lebih jauh, membiarkan Sabrina memiliki ruang untuk
Magbasa pa