Share

162. KENAPA PINTUNYA?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-04-15 11:17:09

"Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?"

            Sabrina terus bergerak panik, jemarinya menekan tombol panel digital pada pintu unit apartemen Kael dengan gerakan serampangan. Suara detak mekanis yang biasanya menandakan kunci terbuka, kini justru mengeluarkan bunyi beep panjang yang menyebalkan sebagai tanda bahwa sistem sedang terkunci total.

            Di b

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nurul Badriyah
Gak sabar bab berikutnya hehehe
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   164. KALIAN SENGAJA YA?

    Suara berat Ganda memecah keheningan pagi yang masih menyisakan sisa-sisa keintiman semalam. Ganda melangkah masuk, tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan tajam sebelum berhenti tepat di manik mata Kael. Matanya yang merah karena terjaga semalaman seolah sedang melakukan pemindaian menyeluruh, mencari-cari apakah ada sesuatu yang bergeser dari adiknya setelah malam yang panjang di unit ini. Sabrina tersentak pelan, segera merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan."Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut," jawabnya pendek. Ia bergegas mendekat, mengambil Aliz dari gendongan sang asisten dengan gerakan yang agak terburu-buru demi menutupi kecanggungannya. Aroma parfum Kael yang maskulin terasa begitu kuat melekat pada selimut yang masih tersampir di ba

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   163. DE JAVU

    Uap panas dari sup jagung masih mengepul tipis di antara mereka, membawa aroma manis yang kini terasa menyesakkan. Sabrina menunduk dalam, jemarinya meremas pinggiran mangkuk porselen putih itu. Kalimat yang dilontarkan Kael beberapa saat lalu seolah memerangkap udara, menciptakan getaran yang merambat hingga ke ulu hati. Dapur yang biasanya sunyi kini terasa penuh oleh gema masa lalu yang belum usai di antara keduanya."Supnya... hampir dingin," bisik Sabrina. Suaranya terdengar rapuh, sebuah upaya pengalihan yang gagal menyembunyikan tensi yang kian memuncak di antara mereka. "Makanlah." Kael meletakkan mangkuknya perlahan ke atas meja marmer, dentingnya terdengar tajam di keheningan malam. Matanya masih mengunci wajah Sabrina dengan intensitas yang tidak berubah, seolah mampu menembus lapisan pertahanan yang susah payah dibangun wanita itu. "Sekarang kau punya banyak cara untuk mengalihkan pembicaraan," ucapnya dengan nada rendah yang menuntut."Aku hanya ti

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   162. KENAPA PINTUNYA?

    "Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Sabrina terus bergerak panik, jemarinya menekan tombol panel digital pada pintu unit apartemen Kael dengan gerakan serampangan. Suara detak mekanis yang biasanya menandakan kunci terbuka, kini justru mengeluarkan bunyi beep panjang yang menyebalkan sebagai tanda bahwa sistem sedang terkunci total. Di belakangnya, Kael ikut mengernyitkan dahi. Pria itu maju, mencoba memasukkan kode akses cadangan melalui ponselnya, namun layar pintunya tetap berkedip merah."Ini pasti ada yang salah," gumam Kael sambil berpikir keras. Ia mencoba menarik tuas manual, namun sistem keamanan gedung ini memang dirancang untuk mengunci secara otomatis jika mendeteksi adanya malfungsi pada sensor pintu. Tak lama kemudian, ponsel Sabrina

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   161. JAGUNG REBUS

    Matahari pagi menyusup di antara celah gedung pencakar langit, membiaskan cahaya keemasan pada perosotan warna-warni di taman bermain apartemen. Sabrina duduk di tepi bangku kayu, tangannya meremas pelan cangkir kopi yang mulai mendingin. Matanya tak lepas dari Aliz yang sedang sibuk memindahkan pasir ke dalam ember plastik dengan konsentrasi penuh. Aroma sabun bayi dan udara pagi yang segar setidaknya sedikit membasuh sesak di dada Sabrina pasca konfrontasi emosional dengan Ganda semalam. Namun, ketenangan itu terusik saat sesosok wanita tua muncul dari arah lobi. Nyonya Maureen tampak tertatih, tangannya yang gemetar menggenggam tongkat dengan tumpuan yang tampak goyah. Sabrina tersentak. Rasa hormat yang mengakar kuat di dirinya mengalahkan rasa takut untuk menghindar. Ia segera berdiri, menggamit tangan mungil Aliz agar mendekat."Nyonya?" sapa Sabrina sedikit kaku. Ia segera membantu Nyonya Maureen duduk di bangku taman yang lebih teduh. "Kenap

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   160. KAU JUGA SAMA DENGANNYA

    "Aku tahu sampai sekarang Kael masih punya perasaan padamu." Suara Ganda memecah keheningan yang menyesakkan di ruang tengah itu seperti sebuah vonis. Sabrina yang sejak tadi berusaha mengatur napasnya, tersentak. Ia yang sedang membenahi posisi duduknya seketika membeku. Binar matanya yang tadinya kosong kini mendadak berkilat tajam, menatap sang kakak dengan amarah yang dipaksakan.Ia segera mendorong kursinya ke belakang hingga menciptakan bunyi gesekan memekakkan telinga di atas lantai marmer. "Bukan urusanku," desis Sabrina tajam. Ia hendak bangkit, ingin segera melarikan diri ke dalam kamar dan mengunci diri dari tatapan Ganda yang terlalu jeli."Kau juga sama dengannya." Langkah Sabrina terhenti di udara. Ia berdiri membelakangi kakaknya dengan bahu yang menegang kaku. "Jangan sok tahu!" teriaknya parau, sebuah jeritan yang terdengar lebih seperti bentuk pembelaan diri yang putus asa daripada kemarahan murni."Ayolah, Sab. Apa yang kau tunggu?" Ganda melu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   159. PIKIRAN YANG BERISIK

    Bunyi klik logam yang beradu saat kunci pintu berputar menjadi satu-satunya pembatas antara Sabrina dan dunia luar yang mendadak terasa mengancam. Begitu grendel terkunci rapat, seluruh kekuatan yang menyangga tungkai Sabrina menguap begitu saja. Ia membiarkan punggungnya merosot pada permukaan pintu jati yang dingin dan keras, sebuah tekstur kasar yang kini menjadi satu-satunya pegangan nyata bagi tubuhnya yang gemetar hebat. Di dalam dekapannya, Aliz bergerak gelisah."Ma... Mama?" gumam bocah itu pelan. Suaranya serak, khas anak kecil yang dipaksa bangun oleh kegelisahan orang dewasa yang menggendongnya. Sabrina tersentak, segera melonggarkan pelukannya yang tanpa sadar sempat mengerat seperti lilitan ketakutan.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   36. SERANGAN TERENCANA??

    Lampu rotator dari mobil patroli keamanan yang berhenti di depan lobi utama berpendar merah-biru, memantul di pilar-pilar marmer yang dingin. Kael tidak menunggu petugas itu turun untuk membukakan pintu. Dengan urat leher yang men

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   35. KEHABISAN NAPAS

    "Grandma!" raungan Kael pecah. Ia tidak mengejar penyusup itu. Fokusnya tunggal. Di samping tempat tidur jati yang megah, Nyonya Maureen tergeletak tak berdaya di atas karpet Persia yang mahal. Vas bunga porselen di dekatny

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   34. SIAPA ITU?

    Suara desis dari lubang ventilasi di langit-langit ruang kerja itu mendadak berubah nada. Bukan lagi hembusan udara sejuk yang keluar, melainkan bunyi sedotan mekanis yang berat dan konstan.&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   33. KENAPA TANGAN TUAN GEMETAR?

    Bunyi klik kunci yang diputar Kael terasa seperti dentuman palu hakim di telinga Sabrina. Gadis itu mematung, kapas beralkohol masih menempel di lehernya, sementara matanya membelalak menatap punggung lebar Kael yang kini bersanda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status