Share

163. DE JAVU

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-04-15 16:05:48

Uap panas dari sup jagung masih mengepul tipis di antara mereka, membawa aroma manis yang kini terasa menyesakkan. Sabrina menunduk dalam, jemarinya meremas pinggiran mangkuk porselen putih itu. Kalimat yang dilontarkan Kael beberapa saat lalu seolah memerangkap udara, menciptakan getaran yang merambat hingga ke ulu hati. Dapur yang biasanya sunyi kini terasa penuh oleh gema masa lalu yang belum usai di antara keduanya.

"Supnya... hampir dingin," bisik Sabrina. Suaranya terdengar ra
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   285. PERKARA SENDOK

    Sabrina buru-buru membekap mulut Kael dengan telapak tangan sambil melirik panik ke meja-meja sebelah yang mulai berbisik. Wajahnya dipastikan sudah semerah stroberi di atas piringnya. Tatapan beberapa pengunjung restoran yang sempat tertuju ke arah mereka membuat Sabrina ingin rasanya menghilang dari bumi detik itu juga."Kael! Kecilkan suaramu! Bisa-bisanya kau mengatakan hal memalukan seperti itu di tempat umum?!" bisik Sabrina dengan nada mendesis, menuntut penjelasan atas kelancangan ucapan kekasihnya. Kael menurunkan tangan Sabrina dari mulutnya dengan santai, tetapi tatapannya masih merajuk. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura mengintimidasi itu kini melunak menjadi ekspresi defensif yang teramat konyol. Pria itu menolak memakan apa pun lagi, menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu bersedekap dada dengan rahang yang mengeras tanda tersinggung."Aku hanya mengatakan fakta," ketus Kael rendah, memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar yang men

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   284. BUKA WAJAHMU

    Jarak yang mengikis habis di antara mereka membuat kabin laboratorium steril itu mendadak terasa begitu hangat. Sabrina bisa merasakan deru napas Kael yang menyapu permukaan kulit wajahnya, menghantarkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduknya meremang."A-aku tidak bohong," elak Sabrina, mencoba menegakkan punggungnya yang bersandar pasrah pada kursi kerja. "Tanya saja pada Stella kalau tidak percaya.” Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum tipis yang teramat tampan terukir di wajahnya. Sebelum Sabrina sempat membuka mulut untuk kembali membela diri, Kael menundukkan kepala dan mengecup singkat bibir ranum gadis itu.Cup."Kael!" protes Sabrina setengah berbisik, matanya membelalak sempurna lantaran terkejut dengan serangan manis yang begitu tiba-tiba. "Ini di laboratorium! Bagaimana k

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   283. APA INI MIMPI?

    Apa tadi? Sabrina merindukannya? Apa ini hanya mimpi atau bagaimana? Kael masih sibuk dengan isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala, melumpuhkan seluruh logika bisnis yang biasanya beroperasi dengan kecepatan tinggi. Seorang Sabrina yang biasanya menutup diri di balik dinding pertahanan yang tebal, barusan merengek manja dan mengaku merindukannya di depan layar ponsel. Hingga suara deheman dari Teguh dan decakan pelan Sabrina di seberang panggilan membuat pria berwajah tegas itu berkedip cepat, tersadar dari lamunan instannya."Kalau kau sibuk ya sudah. Aku pulang saja," kata Sabrina kemudian, nada suaranya mendadak berubah gengsi karena menyadari atmosfer canggung di ruangan Kael."Tunggu aku di sana." Itulah balasan Kael yang lekas mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Dalam hitungan detik, pipinya terasa panas. Jangan tanyakan bagaimana penampilan atau ekspresi sang Direktur Utama O'Shea

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   282. BELAJAR MENGENDALIKAN DIRI

    Ponsel di tangan Sabrina terasa begitu dingin, berbanding terbalik dengan darahnya yang mendadak berdesir panas akibat foto provokatif yang baru saja diterimanya. Selama beberapa detik, napasnya tertahan di tenggorokan. Rasa cemas dan cemburu yang paling primitif nyaris saja menariknya kembali ke dalam cangkang pertahanan diri yang membuatnya ingin mematikan ponsel, mengunci diri di laboratorium, dan mungkin saja akan mengabaikan Kael seperti yang biasa ia lakukan jika menghadapi konflik emosional sebelumnya. Namun, Sabrina menarik napas sedalam mungkin. Ia mencengkeram pinggiran meja laboratorium, memaksa logikanya untuk mengambil alih kendali. Tidak. Ia menolak menjadi wanita lemah yang langsung hancur hanya karena foto dari nomor asing. Setelah apa yang terjadi di bahu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   281. RASA CEMAS

    "Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat," tanya Kael lembut, memecah keheningan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Ia melangkah mendekat, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap lekat sepasang mata Sabrina yang tampak kosong.Sabrina tersentak, buru-buru menarik napas dalam demi menguasai gemuruh di dadanya. "Aku... aku tidak apa-apa, Kael. Hanya mendadak merasa sangat lelah."Ganda yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera mendekat sembari menggendong Aliz yang sudah kembali memejamkan mata di ceruk lehernya. "Lebih baik kau segera istirahat, Sabi. Biar Aliz tidur denganku di kamar sebelah malam ini. Dan Kael, sepertinya kau juga harus pulang.""Terima kasih, Ganda," ucap Kael tulus. Setelah Ganda melangkah masuk ke dalam kamar, Kael beralih sepenuhnya pada Sabrina. Ia meraih kedua tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Jangan pikirkan u

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   280. MINTA MAAF

    Kehangatan romantis yang baru saja mereka bawa dari jalanan seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh atmosfer yang mendadak mencekam dan menegangkan begitu pintu apartemen terbuka lebar. Pemandangan di dalam ruang tengah yang luas itu membuat Kael langsung menegang sempurna dengan rahang mengeras kokoh, sementara Sabrina refleks melangkah mundur satu tapak dengan jantung yang mencelos. Di atas sofa ruang tamu, Ganda sedang duduk sembari memangku Aliz yang masih menyesuaikan diri lantaran baru saja bangun dari tidur siangnya. Namun, keberadaan mereka berdua bukanlah alasan di balik perubahan drastis ekspresi Kael. Di tengah ruangan itu, duduk sosok Nyonya Maureen yang memancarkan aura wibawa yang teramat kuat. Dan tepat di sebelah sang nenek, Rosaleen melemparkan senyu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   69. BUKAN YANG PERTAMA

    Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   68. CARI CARA LAIN

    "Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   67. SAYA SANGAT PANAS

    "Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   66. JANGAN JADI BAJINGAN

    Kael memacu kendaraannya membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan sisa kewarasan yang kian menipis.“Kita mau ke mana, hmm?” Kael hanya berdecak sebagai respon dari pertanyaan bernada bahaya barusan.“Tuan?” rengek Sabrina manja.“Kita akan ke apartemenku yang kemarin.”Sab

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status