Malam itu, hujan badai mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kebisingan kota. Di lantai 45 gedung Araska Group, cahaya lampu ruangan kerja Araska masih benderang, menciptakan panggung sunyi bagi dua orang yang masih bergelut dengan tumpukan dokumen audit.Araska melonggarkan dasinya, sebuah pemandangan langka yang biasanya menandakan ia berada di titik jenuh. Matanya beralih dari layar monitor ke arah Alya yang tertidur di atas dokumen yang sedang ia periksa.Sebuah pemandangan yang tidak efisien menurut logika bisnisnya, namun entah mengapa, membuat ritme jantungnya tidak beraturan.Tanpa sadar, Araska sudah berdiri di samping sofa. Ia berniat membangunkan Alya agar wanita itu pindah ke kamar istirahat pribadinya, namun saat tangannya menyentuh bahu Alya, ia merasakan panas yang membakar."Alya? Buka matamu," suara Araska, yang biasanya sedingin es, kini bergetar karena cemas.Alya mengerang, matanya terbuka sayu, merah karena demam. "Pak... laporannya.
최신 업데이트 : 2026-02-03 더 보기