Genggaman tangan Bianca melemas, dan untuk sesaat, Rendy mengira ia telah kehilangan wanita itu di tengah dinginnya aspal jalanan Bogor. Namun, denyut nadi yang halus di pergelangan tangan Bianca memberinya secercah harapan. Dengan gerakan sigap yang dipacu adrenalin, Rendy mengangkat tubuh Bianca ke kursi belakang mobilnya, mengabaikan noda darah yang mulai mengotori kemejanya.Ia memacu mobilnya menembus badai, bukan menuju vila, melainkan menuju rumah sakit terdekat di pusat kota Bogor. Sepanjang jalan, ia menghubungi Beni."Beni, bereskan sisanya. Aku tidak ingin ada satu pun dari mereka yang lolos. Dan Marco ... pastikan dia bicara atau dia tidak akan pernah bicara lagi selamanya," geram Rendy."Sudah diatur, Bos. Orang-orang di hutan sudah disisir oleh tim dua. Fokus saja pada Bianca," jawab Beni tenang.Saat Bianca membuka mata, langit-langit putih rumah sakit menyambutnya. Bau karbol yang tajam menusuk hidung. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi terasa berat. Ia menoleh
Last Updated : 2026-04-24 Read more