Satu bulan telah berlalu sejak insiden transformator yang hampir merenggut ketenangan mereka. Villa Akasia kini benar-benar menjadi tempat pemulihan, bukan hanya bagi fisik Alya, tetapi juga bagi kewarasan Araska.Namun, pagi itu, suasana meja makan terasa sedikit berbeda. Alya menatap pemandangan hijau dari jendela ruang makan dengan tatapan yang rindu pada keriuhan kota."Mas," panggil Alya lembut. Ia menggendong Kayla yang baru saja selesai menyusu, sementara Tsaqif sibuk menghancurkan telur orak-arik di piringnya.Araska mendongak dari tabletnya, "Ya, Sayang? Ada yang sakit? Kau butuh sesuatu?"Alya terkekeh melihat kesiagaan suaminya yang masih terkadang berlebihan. "Tidak ada yang sakit. Aku hanya berpikir ... sudah sebulan kita di sini. Udara Bogor memang luar biasa, tapi aku rindu rumah kita di Jakarta."Araska terdiam sejenak, meletakkan tabletnya di meja. "Jakarta? Polusi, macet, dan hiruk pikuk itu? Di sini kau aman, Alya. Rendy sudah me
Read more