Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Araska yang tertidur pulas di sampingnya. Tangan kekar suaminya itu melingkar erat di pinggangnya, seolah takut ia akan lari.Ia mencoba menggeser tangan Araska pelan, tidak ingin membangunkannya. Namun, gerakan sekecil apa pun rupanya cukup untuk mengusik tidur nyenyak pria itu. Mata Araska terbuka, menatap Alya dengan pandangan setengah mengantuk namun penuh kepemilikan."Mau ke mana, hm?" gumam Araska serak, suaranya terdengar seksi di telinga Alya. Ia justru semakin mempererat pelukannya, menarik Alya kembali ke dadanya."Mas, lepas dulu. Aku mau mandi, ayo salat, lalu aku harus siap-siap ke yayasan," ujar Alya lembut, tangannya mengusap rahang tegas Araska yang mulai ditumbuhi janggut tipis."Yayasan lagi?" Araska mendengus pelan, menyembunyikan wajahnya di leher Alya.Alya terkekeh, ia mencium puncak kepala Araska. "Mas. Membangun Yayasan Cahaya Alya adalah impianku."
Read more