Seusai pemakaman, ruang perpustakaan pribadi di kediaman Adiguna, ruangan yang biasanya tenang dengan aroma kertas tua dan kopi, kini terasa sesak oleh ketegangan yang kasat mata.Araska duduk di kursi kebesarannya, tetapi matanya terus tertuju pada Alya yang duduk di sampingnya, menggenggam jemarinya dengan kekuatan yang menenangkan. Di seberang meja jati besar itu, Paman Wijaya duduk dengan gelisah, didampingi pengacara pribadinya yang berkali-kali membetulkan letak kacamatanya. Di sudut lain, Aldi, Bayu, Siska, dan Rina turut hadir sebagai saksi atas wasiat yang akan dibacakan.Aldi, pria yang kini memiliki guratan kedewasaan di wajahnya, menatap Alya sekilas, mantan istrinya yang kini telah menemukan pelabuhan yang tepat. Ada rasa bersalah yang telah lama ia kubur, tetapi melihat bagaimana Araska melindungi Alya, Aldi tahu bahwa tugasnya sekarang hanyalah menjadi benteng bagi keluarga ini dari luar.Seorang pria tua berambut perak, Pak Heru, pengacara kepercayaan Nenek Ratih selam
Read more