Chyara melangkah hingga ke tengah aula, lalu menunduk dalam-dalam. “Salam hormat untuk Grand Chancellor Lucien,” ucapnya tenang. Ia memberi hormat dengan sempurna, tidak terburu-buru, tidak pula berlebihan. Setelah itu, ia kembali berdiri tegak. Punggungnya lurus, dagunya terangkat sedikit, sorot matanya jernih. Callister tampak paling terkejut. “Ara, apa maksudmu?” suaranya meninggi tanpa sadar. “Wilayah itu berbahaya. Satu kesalahan saja, kau bisa ikut terjangkit wabah!” Namun, Chyara tidak menoleh padanya. Tatapannya tetap tertuju pada Lucien, seolah hanya pria agung itu yang berhak menerima jawabannya. Cassio akhirnya tak mampu menahan amarahnya. “Berani-beraninya kau memotong pembacaan titah dan menawarkan diri seperti itu!” bentaknya. “Apakah kau menganggap titah Kekaisaran sebagai bahan permainan?” Suasana aula kembali menegang. Perlahan, Chyara mengalihkan pandangannya pada ayahnya. Tatapannya tajam, tetapi tidak membangkang. “Lalu,” katanya datar, “apakah Tuan Marq
Last Updated : 2026-02-28 Read more